Seringkali kita melihat, memikirkan dan membicarakan kelebihan-kelebihan yang Allah berikan kepada orang lain, baik itu kelebihan materi seperti harta, ketampanan wajah, anak keturunan atau hal-hal lainnya.
Seringkali kita berharap memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain sehingga tidak sempat mensyukuri apa yang telah kita miliki.
Boleh saja kita memohon kepada Allah, “Ya Allah, berikan kepadaku kelebihan seperti yang kau berikan kepada si fulan.”
Namun yang dilarang adalah berkhayal dan berangan-angan memiliki kehidupan seperti orang lain karena hal itu akan memunculkan sifat dengki dan hasud.
Ketika anda menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, mohonlah kepada Allah karena semua itu adalah pemberian-Nya.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. An-Nisa’: 32)
Pada akhir ayat tersebut ditekankan agar kita memohon kepada Allah karena hanya Dia-lah yang dapat memberi semua kelebihan itu. Jangan tenggelam dalam angan-angan untuk memiliki kehidupan seperti orang lain, tapi cepatlah pergi menuju Sang Pemilik kehidupan yang sebenarnya.
Ingatkah kita setiap kali Zakaria as masuk ke mihrab Maryam, beliau selalu menemukan rizki berupa buah-buah yang bukan di musimnya. Ketika melihat hal itu respon Nabi Zakaria as adalah berdoa dan memohon kepada Allah swt,
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ
“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya.”(QS. Ali ‘Imran: 38)
Oleh karena itu di akhir ayat utama di atas Allah menutup dengan firman-Nya,
“Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Siapa yang harus diberi dan siapa yang belum saatnya untuk diberi. Karena belum tentu kelebihan yang diberikan kepada orang lain akan menjadi kebaikan jika kelebihan itu diberikan pada diri kita.
Masih ingatkah kita dengan kaum di zaman Qarun, mereka berangan-angan memiliki harta seperti Qarun, namun ketika azab itu datang dan menenggelamkan semua yang ia miliki ke dalam tanah, para penduduk mulai sadar dan berkata:
وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan (Karun) itu berkata, “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Al-Qashash: 82)
💬 Yuk lanjutkan belajar kisah-kisah teladan lainnya bersama kami!Follow & kunjungi sosial media kami:
✨️Instagram : https://www.instagram.com/14teladanofficial?igsh=YWhqY3FlaGxyY2xl
✨️TikTok: https://www.tiktok.com/@14.teladan?_t=ZS-8zsNYmN232W&_r=1
✨️Web : https://14teladan.com/





