Semakin hari, peradaban manusia semakin maju. Perkembangan teknologi, sarana prasarana dan lainnya yang begitu pesat berhasil mengubah peradaban menjadi modern. Dalam hal ini, yang paling di untungkan adalah manusia. Sebab, Inovasi sosial, ekonomi, dan seterusnya yang menjadi buah dari perkembangan itu berhasil membuat ruang gerak dan aktivitas manusia menjadi praktis dan serba mudah.
Banyak kalangan (barat, dan lain-lain) berpandangan bahwa kemajuan tersebut di sebabkan oleh sumbangan besar dari ilmu pengetahuan atau sains. Ilmu pengetahuan di nilai banyak sekali memberikan kontribusi terhadap pemikiran atau paradigma kreatif, inovatif dan canggih yang menunjang perkembangan atau kemajuan itu.
Kalangan yang berpandangan tentang kontribusi ilmu pengetahuan terhadap kemajuan peradaban itu terbagi menjadi dua, pertama ada yang normal, kedua ada juga yang fanatik. Kalangan yang berpandangan normal menilai, ilmu pengetahuan memang berkontribusi besar terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban, tetapi, ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya kontributor.
Sedangkan, kalangan fanatik menilai, ilmu pengetahuanlah satu-satunya kontributor. Dalam pandangan mereka, hal lain seperti agama di nilai tidak memiliki andil bagi kemajuan tersebut. Bahkan, agama di nilai hanya sesuatu yang mempersulit progres kemajuan saja.
Sehingga, agama mestinya di tinggalkan, karena konteks ajarannya sudah tidak sesuai dengan keadaan. Namun, apakah pandangan ini benar? Dalam penilaian subjektif+sentimen, mungkin pandangan ini agak memiliki substansi yang benar. Tetapi, dalam penilaian objektif dan adil, pandangan ini sejatinya sangat salah.
Fakta mengatakan, agama merupakan salah satu hal yang (malah) memiliki kontribusi paling besar terhadap kemajuan itu. Dasarnya, berbagai keilmuan pengantar atau menjadi titik pijak dari kemajuan tersebut sejatinya berasal dari agama (terutama agama Islam), melalui karya dari tokoh dan ulama-ulamanya. Seperti Ar-Razy, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi dan lain-lain.
Karya dari tokoh dan ulama-ulama itulah yang akhirnya banyak di terjemahkan dan menjadi rujukan berbagai kalangan untuk menunjang kemajuan peradaban mereka. Termasuk oleh barat pada masa kebangkitannya dari masa kegelapan/kesuraman (renaisance) dan masih banyak lagi.
Jadi, pandangan kalangan fanatik (barat dan lainnya) yang menganggap Islam sebagai sesuatu yang menghambat dan memundurkan peradaban dunia, termasuk kemunduran internal agamanya sendiri adalah pandangan yang keliru. Kemunduran internal agama Islam sendiri lebih di sebabkan oleh faktor sikap dari individu penganutnya yang kurang respek terhadap berbagai sumber dan akses keilmuan yang mereka miliki.
Setelah mulai respek dan sadar, mereka akhirnya bisa bangkit kembali. Dalam hal ini, berbagai sumber keilmuan dari filsuf barat/ Yunani juga menjadi bagian yang berkontribusi terhadap kebangkitan umat Islam tersebut.
Agama dan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak dapat di pisahkan, terutama dalam kaitannya terhadap kemajuan peradaban. Boleh di bilang, agama dan ilmu pengetahuan merupakan unsur utama bagi kemajuan itu. Bukan salah satunya saja (Seperti ilmu pengetahuan saja atau agama saja).
Oleh karena itu, pandangan kita terhadap agama dalam konteks ini mesti di sejajarkan dengan ilmu pengetahuan (bahkan lebih tinggi). Agama bukanlah penghambat kemajuan. Agama merupakan pendukung dan kontributor dari kemajuan itu sendiri. Agama merupakan sesuatu yang dinamis dan selalu mengikuti serta mempelopori perkembangan zaman. Maka, tidak bijak kiranya kalau kita malah menyalahkan agama sebagai penyebab kemunduran tadi.
Agama dan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang fundamen dan monumental dalam dinamika peradaban. Keduanya merupakan hal yang semestinya di padukan satu sama lain (di sana). Perpaduan antara agama dan ilmu pengetahuan adalah hal yang mahal. Sebab, perpaduan tersebut bisa menciptakan sebuah peradaban yang bukan hanya maju, melainkan berkeadaban juga berliput keberkahan.
Wallahu ‘alam
Ega Adriansyah
Kubangdeleg, 15 Juni 2022, 22.10 WIB






