Allah Swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (al-Baqarah: 168)
Cucu Nabi Sayyidina Musa al-Kazhim RA berkata,
“Sesungguhnya (sesuatu) yang haram itu tidak akan berkembang, dan jikapun berkembang, tidak ada berkah (kebaikan)-nya.”
Makanan halal akan mendatangkan kebaikan dan kesehatan. Para nabi as sama sekali tidak pernah makan makanan haram dan senantiasa menasihati umatnya untuk mencari penghasilan dari jalan yang halal dan menjauhi berbagai perkara haram. Makan makanan haram akan membuat hati menjadi keras, ini merupakan penyakit hati yang paling berat. Bahkan pengaruh makanan haram akan menular kepada anak cucu.
Di akhir hayatnya, manusia hanya memerlukan beberapa meter kain kafan dan beberapa meter persegi tanah kubur. Maka manusia seyogyanya menghindari penumpukan harta haram yang akan ditinggalkannya untuk orang lain, di mana peninggalan itu nantinya juga akan membuat orang lain sengsara.
Tentang kedudukan mencari penghasilan yang halal, Rasulullah saw banyak berwasiat kepada umatnya, di antaranya,
“Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, dan yang paling utama adalah mencari penghasilan yang halal.”
Penghasilan yang halal akan men cerahkan hati, membuat ibadah diterima Allah SWT, dan menjadikan manusia senantiasa menjaga hak-hak Allah Swt.






