Apakah kamu melihat sebagian orang ketika melaksanakan ibadah tertentu semisal sholat, ia tidak peduli dan tidak khawatir apakah solatnya di ridhoi oleh Allah atau tidak ? apakah puasanya di ridhoi oleh Allah atau tidak ? Padahal di sisi lain dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan kehidupan dunianya, ia merasakan khawatir.
Seakan-akan mereka melaksanakan ibadah itu karena terpaksa dan menganggap bahwa ibadahnya itu sudah cukup dan sudah lebih dari apa yang telah Allah suruh atasnya.
Mereka tidak mengetahui bahwa Allah melihat perasaan perasaan hamba-hamba-Nya, jadi apabila seseorang tidak peduli akan diterimanya ibadahnya oleh Allah swt, maka pada realitanya dia melaksanakan ibadah itu dengan perasaan tidak suka dan ibadah tersebut tak bernilai di sisi Allah swt.
Tidak ada nilainya ibadah seorang hamba di sisi Allah swt jika ia acuh tak acuh serta tidak peduli akan tujuan ibadah itu sendiri serta tidak peduli akan diterimanya ibadah tersebut. Padahal yang terpenting di sisi Allah hendaknya seorang hamba sebelum beribadah, di pertengahan beribadah atau setelah beribadah agar raganya menghadap Allah sekaligus hatinya juga merindukan Allah.
Dari sini kita bisa melihat kenapa begitu banyak orang yang berpuasa namun tidak mereka peroleh dari puasa itu kecuali hanya lapar dan dahaga.
Kalau kita ingin mengetahui apakah kita termasuk orang yang peduli dengan tujuan dari amal yang kita lakukan dan tidak di liputi kecemasan amal kita di ridhoi oleh Allah swt atau tidak, saya kasih contoh; saat ada seorang fakir miskin datang ke rumah kita lalu kita ingin memberinya makanan sementara kita menganggap orang fakir ini tidak berarti bagi kita, maka di waktu itu kita tidak akan peduli tentang bagus atau tidaknya wadah / piring yang kita gunakan sebagai tempat makanan tersebut, atau bahkan kita akan memberikan makanan dan piringnya kepada orang fakir tersebut sekaligus.
Pada contoh kasus itu, kita memberi makan orang fakir tidak peduli serta acuh tak acuh dengan perbuatan baik yang kita lakukan kepadanya serta tidak peduli akan tata cara menerima tamu, melainkan kita memberinya makan hanya agar orang fakir itu cepat pergi dan menjauh.
Sumber : Madinatullah karangan Syekh Ali reza Panahian






