Hamad bin Habib Kufi bercerita:
Pada suatu hari, saya berangkat menunaikan ibadah haji dengan rombongan, dan begitu kami sampai di suatu tempat bernama Zabalah, angin bertiup amat kencang sehingga kami semua saling berpencar dan berpisah. Saya tersesat di tengah padang pasir yang luas itu dan kehilangan arah. Hingga akhinya, saya sampai di suatu tempat tanpa air dan pepohonan.
Di tengah malam buta, saya melihat di kejauhan sebatang pohon lalu segera berjalan ke arahnya. Sesampainya di dekat pohon itu, saya melihat seorang pemuda mengenakan pakaian putih dengan aroma harum. Saya berguman, “Orang ini pasti salah seorang kekasih Allah!”
Saya merasa khawatir dia tahu keberadaan saya, karena itu saya berjalan ke arah lain dan menyembunyikan diri. Dia bersiap-siap menunaikan shalat dengan mengucap doa, “Wahai Yang Kerajaan-Nya meliputi segala sesuatu….” Lalu mulai mengucapkan takbir dan shalat.
Saya mendekat dan melihat sebuah mata air yang memancarkan air, dan segera berwudu serta shalat di belakangnya. Di tengah shalat, tatkala dia sampai pada bacaan yang menceritakan siksaan akhirat, dia merintih dan mengulang-ulang bacaan ayat tersebut. Tatkala malam telah mendekati Subuh, si pemuda itu berjalan meninggalkan tempatnya dan sibuk memanjatkan doa, “Wahai Yang Dituju oleh mereka yang tersesat.”
Dikarenakan khawatir akan kehilangan dia, saya segera menghampirinya dan berkata, “Aku bersumpah demi Zat yang melenyapkan rasa letih darimu serta mengaruniakan kepadamu kenikmatan dalam kesendirian, kasihanilah saya Saya tersesat dan amat mengharap pertolonganmu untuk dapat menemukan jalan menuju Mekah.”
Dia berkata, “Jika engkau benar-benar bertawakal kepada Allah, engkau takkan tersesat. Sekarang, ikutilah aku.” Dia lalu segera berjalan menuju sebuah pohon dan memegang tangan saya serta membawa saya ke suatu tempat. Tatkala terbit fajar Subuh, dia berkata, “Bergembiralah, ini Mekah dan saya mendengar suara orang-orang yang melaksanakan ibadah haji!” Saya bertanya, “Aku bersumpah demi Zat Yang engkau harapkan pada hari kiamat, katakanlah siapa dirimu?” Dia menjawab, “Sekarang tatkala engkau telah bersumpah, aku adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib Ra.”
Peran dan letak tawakkal dalam kehidupan
Tawakal dalam berdakwah
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.”(QS At-Taubah : 128-129)
Tawakkal Menghadapi nasib
“Ya’qub berkata, “Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. Meskipun demikian, Aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah: kepada-Nya lah Aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal, berserah diri.” (QS Yusuf : 67)
Keberuntungan bagi yang sabar dan tawakkal
“Orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS an-Nahl : 41-42)
Tawakkal hadapi gangguan
“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.” (Qs. Ibrahim:12)
Uraian di atas meninggal kan beberapa pelajaran diantaranya;
- Tawakal adalah wujud penghambaan kepada Allah SWT kareana yakin bahwa dalam segala fenomena ini ada peran Allah SWT sebagai tuhan yang selalu merahmati ciptaannya
- Tawakkal adalah hasil akhir sebuah semangat dan keaktifan, bukan kepasrahan pasif apalagi kemalasan. Karena tawakkal selalu dan harus di dahului oleh ikhtiar
- Orang yang bertawakkal pada Allah SWT akan terhindar dari ketersesatan
- Tawakkal ada di banyak tempat dan momen kehidupan






