Brand Image
Search

Indonesia dan Sains

Sekitar jam 02.30 WIB, saya menonton pembicaraan Prof. Rhenald Kasali di kanal YouTube miliknya tentang disrupsi dan pentingnya mencetak SDM yang mumpuni dalam hal sains di zaman sekarang. Sebagaimana kita tahu, setelah melewati era industri 1.0 yang identik dengan batu bara, 2.0 dan 3.0 yang identik dengan minyak, saat ini, dunia telah memasuki era industri 4.0 bahkan 5.0 yang identik dengan chips sebagai kebutuhan utama disrupsinya.

Oleh karena itu, negara-negara adidaya, seperti Amerika, Tiongkok, Rusia dan lain-lain saat ini tengah berlomba-lomba menjadi produsen pembuatan chips. Chips adalah salah satu sumber energi atau otak dari berbagai macam alat/teknologi yang ada di zaman sekarang. Dari mulai persenjataan, mesin-mesin dan sebagainya, semua memerlukan chips untuk mendukung jalannya pengoperasian alat/teknologi tersebut.

Di Amerika sendiri ada Intel, Intel merupakan perusahaan pembuat chips yang dahulu sempat menjadi nomor satu di dunia, tetapi, dalam perjalanannya, Intel tidak lagi menjadi yang demikian, sebab, perusahaan-perusahaan kompetitor semakin banyak, seperti ada Samsung di Tiongkok, TSMC (Taiwan Semi Conductor) di Taiwan dan lain-lain. Sebetulnya masih banyak, tetapi, yang menguasai pasaran chips dunia adalah perusahaan-perusahaan tadi.

Dalam persaingannya, Intel tertinggal jauh, apalagi setelah di dera masalah karena pandemi dan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan berbagai macam kebutuhan penunjang pembuatannya seperti hydrogen fluoride terhambat atau mengalami penundaan (delay) selama beberapa tahun. Dalam hal ini, Intel pun terasa semakin kesulitan/kelabakan untuk mengejar.

Untuk Samsung dan TSMC sebaliknya, mereka lancar-lancar saja. Malah, mereka sendiri telah mengembangkan inovasi chipsnya menjadi lebih baik dari Intel. Biasanya, semakin kecil ukurannya, chips semakin bagus. Samsung dan TSMC telah mengembangkan inovasi chips berukuran 5 nano meter, sedangkan Intel masih berukuran 10 nano meter. Bahkan, Samsung dan TSMC telah mewacanakan ukuran 3 nano meter di samping Intel yang baru akan mewacanakan pembuatan chips berukuran 7 nano meter.

Oleh karenanya, persaingan antara Amerika dan Tiongkok semakin ketat, Amerika dalam hal ini tidak mau kalah, maka, dengan kekuasaan dan strategi Internasionalnya, Amerika telah mengambil banyak langkah/kebijakan untuk menekan dan menahan perkembangan inovasi atau dsrupsi dari kedua perusahaan asal Tiongkok dan Taiwan tersebut, terutama Tiongkok.

Tiongkok juga sama, karena tekanan dan seterusnya dari Amerika, mereka pun seperti langsung melakukan berbagai macam usaha perlawanan untuk mempertahankan atau bahkan terus mengembangkan industri chipsnya. Namun, karena begitu ketat atau kuatnya persaingan dan tekanan itu, disrupsi teknologi atau sejenisnya ini ternyata (menurut Prof. Rhenald Kasali) berpotensi menyebabkan perang besar.

Dalam hal ini, perang yang di maksud adalah perang (saling mencaplok wilayah) untuk kepentingan memenuhi kebutuhan energi chips masing-masing. Itulah mungkin yang menyebabkan Tiongkok terus melakukan intervensi yang menciptakan ketegangan dengan Taiwan, sepertinya, Tiongkok memiliki tujuan untuk menguasai Taiwan agar bisa mengambil TSMC.

Selain itu, Amerika dan sekutu-sekutunya di Eropa pun terus melakukan hal serupa. Perlu di ketahui, bahwa hydrogen fluoride adalah bahan baku pembuatan chips yang umumnya bisa di dapatkan oleh di beberapa negara seperti Rusia dan Ukraina. Oleh karena itu, hal ini jugalah yang barangkali akhirnya menyebabkan Amerika dan Nato bersikukuh mencoba mempertahankan Ukraina dari agresi militer yang dilakukan Rusia.

Kalau berkepanjangan, hal ini tentunya dapat menyebabkan ketegangan antara negara-negara di dunia semakin tinggi. Kita mungkin tahu bahwa negara-negara itu adalah negara-negara besar yang menguasai sebagian besar wilayah dunia (bidang militer, pasar dan lain-lain). Maka, pernyataan Prof. Rhenald Kasali tadi memang seperti mengandung unsur kebenaran juga. Namun, mudah-mudahan hal itu tidak sampai terjadi.

Kembali ke bahasan awal soal chips, saat ini, chips merupakan sesuatu yang bisa menyebabkan negara produsennya menjadi kaya atau sejahtera, sebab, seperti yang telah di katakan sebelumnya, chips merupakan sumber energi atau otak alat yang di butuhkan oleh seluruh industri teknologi yang ada di dunia. Maka dari itu, Indonesia pun sejatinya perlu mengupayakan diri untuk menjadi salah satu darinya.

Untuk menunjang hal itu, Indonesia perlu mulai melakukan upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang sains. Menurut Prof. Rhenald, ahli-ahli sains di Indonesia masih sedikit, kebanyakan ahli-ahli sosial saja. Oleh sebab itu, Dia menyarankan agar Indonesia perlu merombak fokus pendidikannya ke arah sains, karena, sains adalah ilmu pengetahuan yang sangat di butuhkan di masa kini dan masa depan.

Negara yang tertinggal di bidang itu pasti akan selalu menjadi negara terbelakang. Maka, demi masa depan kenegaraan yang lebih cerah, Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan hal itu. Terlebih Indonesia memiliki cita-cita menjadi negara maju di 2045, saya rasa, untuk mewujudkannya, peran sains akan sangat membantu, Indonesia tidak bisa maju hanya dengan peningkatan-peningkatan segi kehidupan sosialnya saja, Indonesia juga memerlukan peningkatan di bidang teknologi dan Industri terbarukan, contohnya seperti chips ini.

Wallahu ‘alam

Ega Adriansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Picture of admin teladan
admin teladan

Latest post