Brand Image
Search

Pentingnya Klarifikasi, Demi Terwujudnya Kerukunan

Kerusuhan yang terjadi di Babarsari, Yogyakarta, viral dan ramai di perbincangkan oleh masyarakat. Berdasarkan pemberitaan, kerusuhan itu di awali dari permasalahan di sebuah tempat hiburan, intinya, di situ terjadi kesalahpahaman yang memicu keributan dan menyebabkan timbulnya korban. Lalu, dari keributan tersebut, kesalahpahaman berlanjut dan berlarut-larut sampai melibatkan kelompok lain yang tidak ada urusannya dengan permasalahan itu juga.

Karena salah satu temannya ada yang menjadi korban, kelompok ini pun tidak terima dan akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian, tetapi, karena kurang puas dengan tanggapan dari pihak kepolisian, kelompok ini akhirnya memutuskan untuk balas dendam, dan terjadilah kerusuhan di Babarsari. Mengamati kronolgi kejadiannya, saya tahu bahwa semua ini sebetulnya di sebabkan karena dalam ikhtiar penyelesaian masalahnya, pihak-pihak atau kelompok yang terlibat tadi sama sekali tidak mengedepankan otak, melainkan hanya otot.

Permasalahan yang memicu kerusuhan ini sebetulnya menurut saya sepele, hanya soal kesalahpahaman sudah bayar di tempat hiburan atau belum, tetapi, karena semua pihak atau kelompok tidak mengindahkan penyelesaian masalah secara mediasi, musyawarah, atau sejenisnya yang mengutamakan kedewasaan (tabayun/saling konfirmasi), permasalahan yang sepele itu akhirnya malah menjadi besar dan tidak terkendali.

Dalam hal ini, setiap pihak atau kelompok mestinya mengerti, apalagi yang terlibat di dalamnya (kalau tidak salah) kebanyakan dari teman-teman mahasiswa. Bukan hanya paham, semestinya mereka juga dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara-cara yang mendidik. Miris sekali memang. Sebab, di samping semua itu, permasalahan ini juga ternyata melibatkan mahasiwa-mahasiswa yang berbeda daerah, dari NTT, Papua dan sebagainya. Sehingga, potensi berlanjut ke hal yang lebih buruk (konflik antar daerah, ras atau suku) bisa saja terjadi. Hal inilah yang menyebabkan permasalahan di Babarsari menjadi pelik.

Namun, saya sedikit lega, sekarang situasi sudah mulai terkendali dan kondusif, pihak berwenang dan Pemerintah Provinsi Yogyakarta telah melakukan tindakan di sana. Selain itu, Sultan Hamengkubuwono X juga sudah menghimbau kepada beberapa pihak atau kelompok untuk tertib di wilayahnya. Karena semua kejadian ini dapat mencoreng ataupun merusak reputasi Yogyakarta yang nota bene di sebut sebagai kota pelajar/orang-orang berpendidikan menjadi sebaliknya, kota preman dan orang-orang yang brandalan. Naudzubillah. Mudah-mudahan, peristiwa serupa tidak akan terjadi lagi di Yogyakarta dan di kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Wallahu ‘alam

Ega Adriansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Picture of admin teladan
admin teladan

Latest post