Teman-teman, pernah merasa bersalah? Karena melakukan suatu kekhilafan di masa lalu, menyakiti fisik atau hati orang lain di masa lalu, pernah mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang atau lingkungan sekitar dan lain-lain? Mungkin, semua pernah merasakannya ya. Saya pribadi sering merasakan soalnya. Entahlah, kalau di pikir-pikir, perasaan itu seperti menyesakkan, membuat diri merasa sesal, dan seterusnya.
Terkadang, perasaan itu juga membuat saya sedih dan melakukan aktivitas meratapi secara berlebihan. Saya sering membayangkan, itu berdampak negatif bagi kita tidak ya? Atau, itu melenyapkan pahala kebaikan yang selama ini dilakukan tidak ya? Ah, pemikiran ini seringkali membayang ke arah sana. Namun, menanggapi sebuah perasaan bersalah secara berlebihan seperti ini sejatinya tidak baik teman-teman.
Maka, dalam kehidupan yang kita jalankan, menghindarinya merupakan sesuatu yang di anjurkan. Dalam hal ini, saya pun sedang mengusahakan agar diri selalu bisa demikian. Berusaha menempatkan diri agar selalu berada dalam koridor/keadaan yang proporsional, tidak menggebu-gebu, dan lain-lain. Karena, menanggapinya dengan berlebihan seperti tadi dapat membuat perasaan, situasi hati serta pikiran menjadi semakin resah, kalut dan gelisah.
Berbeda halnya ketika kita menanggapi semua itu dengan proporsional dan penuh kesadaran, perasaan bersalah itu mungkin akan berubah menjadi motivasi untuk segera melakukan perbaikan. Dengan evaluasi, memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah, dan masih banyak lagi. Ketika sholat, berdoa, menyendiri, dan sejenisnya.
Sehingga, perasaan bersalah itu nantinya bisa tergantikan oleh perasaan tenang, bijaksana (tidak grasah grusuh) dan lainnya yang pada akhirnya mampu berdampak positif bagi diri serta kondisi psikologis kita di kehidupan (sekarang dan yang akan datang). Kita jadi semakin hati-hati dalam melakukan sesuatu hal (wara), kita jadi semakin lapang dada, mudah meminta maaf dan memaafkan, dan sebagainya.
Sebab, upaya perbaikan di atas secara langsung dapat membuat diri kita menjadi seorang yang berkualitas dalam segi spiritual dan emosional. Juga, upaya perbaikan di atas pun dapat membuat kita menjadi seorang yang berpandangan luas, penuh pertimbangan jernih, dan lain-lain. Kita mampu memandang dan menimbang secara utuh bahwa setiap manusia notabene memang merupakan makhluk yang punya potensi sama untuk melakukan kesalahan. Termasuk diri kita.
Maka, sudah sepantasnya kita tidak terus-menerus bersikap menyalahkan diri atau berkutat pada belenggu meratapi kesalahan yang tiada henti. Sebaliknya, dalam hal ini sepantasnya kita mesti selalu mengupayakan diri melakukan suatu perbaikan dan ikhtiar pencegahan agar semua kejadian dan perlakuan itu tidak terulang kembali. Sebab, hanya dengan begitulah bayang-bayang merasa bersalah yang berlebihan seperti demikian ini dapat pudar dan terminimalisasi.
Wallahu ‘alam
Ega Adriansyah
Kubangdeleg, 08 Juni 2022, 16.03 WIB






