Siang ini, sekitar pukul 10.00 WIB lebih tadi, saya mendengar kabar duka dari beberapa teman dan tokoh-tokoh intelektual bahwa Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif atau biasa kita panggil dengan sebutan Buya Syafi’i meninggal dunia. Innalilahi wa innailaihi rojiun. Dalam hal ini, terkonfirmasi bahwa Beliau meninggal karena sakit. Sejauh pengetahuan saya, sebelumnya Beliau memang sudah sering mengalami sakit-sakitan seperti itu hingga rutin menjalani perawatan dan melakukan aktivitas pulang pergi ke rumah sakit.
Sebetulnya, beberapa waktu yang lalu media memberitakan bahwa kondisi kesehatan Beliau telah membaik. Bahkan, Presiden Joko Widodo pun sempat menengoknya. Namun, di ketahui, belakangan ini kondisi kesehatan Beliau kembali memburuk, hingga pada puncaknya, siang ini kondisi kesehatan Beliau semakin parah, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di salah satu jenis rumah sakit Muhammadiyah atau PKU yang berada di Gamping ketika menjalani perawatan atas sakit yang di deritanya.
Berita duka ini sungguh mengagetkan dan memberikan kesan sedih yang cukup mendalam bagi saya. Mungkin, teman-teman dari Muhammadiyah ataupun umum dari seluruh penjuru Indonesia yang sedikit banyak tahu tentang Beliau ikut merasakannya juga. Maka, dalam tulisan ini, secara pribadi saya ingin mengucapkan bela sungkawa atas kematian Beliau. Mudah-mudahan, Beliau meninggal dalam keadaan husnul khotimah, mendapat keridhoan dari Allah, dan sebagainya. Aamiin.
Teman-teman, Beliau merupakan salah satu pendiri Ma’arif Institute sekaligus mantan Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Beliau di kenal sebagai ulama dan cendekiawan muslim yang alim dan bijak. Beliau juga merupakan seorang penulis buku-buku keIslaman yang produktif dan inspiratif. Setidaknya, yang saya tahu, selama hidupnya, Beliau sudah menulis sekitar 5 buku lebih. Beberapa diantaranya ada Dinamika Islam, Islam, Mengapa Tidak?, Dan lain-lain.
Saya pribadi merupakan seorang pengagum dan penggemar Beliau. Baik dalam urusan kepribadian, karya maupun sikap. Oleh karena itu, kepergiannya hari ini merupakan berita yang begitu memukul. Sebab, bagi saya, Beliau merupakan sosok yang sudah boleh di bilang guru bangsa yang arif dan perlu di jadikan teladan oleh banyak penduduk Indonesia. Oleh kaum muda, kalangan terpelajar, masyarakat biasa, dan masih banyak lagi.
Dan dalam hal ini, sara rasa Beliau pun sudah layak untuk di sandingkan dengan para pendahulunya seperti Alm. Nurcholish Madjid, Alm. Abdurahman Wahid (Gus Dur), Alm. Harun Nasution, dan segenap tokoh-tokoh dan guru bangsa lain. Karena, jasa, kontribusi dan sumbangan maslahat yang Beliau berikan untuk bangsa Indonesia sudah sangat banyak dan besar. Di dunia pendidikan, dakwah, pemikiran dan sejenisnya.
Buya Syafi’i merupakan sosok yang berarti bagi bangsa. Maka, dalam hal ini kita patut berbangga pernah memiliki sosok seperti dirinya di Indonesia. Kepergiannya saat ini merupakan sesuatu yang amat mendukakan. Namun, kepergiannya saat ini tidak boleh melarutkan diri kita pada kesedihan yang terlalu mendalam dan berlebihan. Sebaliknya, kepergiannya saat ini harus dapat menjadikan kita semakin bersemangat untuk melakukan pergerakan serta upaya melanjutkan progres serta visi misi mulia Beliau di masa depan.
Karena, visi misi Beliau untuk masa depan saya yakin belum tuntas. Terutama untuk masa depan Islam dan bangsa Indonesia. Dalam hal persatuan, toleransi, kebijaksanaan, moderasi, keadilan dan seterusnya. Oleh karena itu, sebagai pengagum dan peneladan Beliau, kita mesti semakin semangat untuk melanjutkan dan memperjuangkan visi misi ini teman-teman. Sebab, visi misi ini seluruhnya bertujuan baik dan positif. Mewujudkan kerahmatan Islam, memajukan Bangsa dalam perspektif kebaikan, menjadikannya penuh dengan nilai-nilai keberkahan dan sebagainya.
Selamat jalan Buya.
Wallahu ‘alam
Ega Adriansyah
Kubangdeleg, 27 Mei 2022, 13.07 WIB






