Dan karena tiada bagi hamba kecuali penghambaan dan ia adalah shirâth mustaqîm yang akan menyampaikan hamba kepada kesempurnaan dan kedekatan dengan Allah – Azza wa Jalla –, sementara itu hamba serba lemah dan selalu butuh kepada bantuan Allah dalam segala urusannya, maka tidak ada yang layak dipinta dari Allah kecuali dilenggengkan berada di atas jalan keselamatan… jalan kebahagiaan abadi… jalan kedamaian… jalan menuju ridha Allah … jalan penghambaan. Dari sini ia sadar bahwa ia harus memohon bantuan kepada Allah maka ia menengadahkan tangan permohonannya kepada Allah dengan mengucap:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.”
Hamba yang sudah berada di atas jalan penghambaan kepada Allah… dan berkomitmen hanya menyembah Allah dan hanya kepada-Nya ia memohon bantuan, ketika ia mengucapkan permohonan di atas, pada dasarnya ia memohon agar Allah melanggengkan baginya nikmat penghambaan tersebut.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mengungkap sebagian rahasia di balik ayat di atas dengan sabda beliau:
يَعْنِي أَدِمْ لَنَا تَوْفِيقَكَ الَّذِي أَطَعْنَاكَ بِهِ فِي مَاضِي أَيَّامِنَا حَتَّى نُطِيعَكَ كَذَلِكَ فِي مُسْتَقْبَلِ أَعْمَارِنَا
“Maksudnya: Ya Allah, langgengkan taufiq, bimbingan dan bantuan kemudahan dari-Mu untuk kami, yang dengannya kami menaati-Mu di hari-hari yang telah lewat, agar sehingga kami menaati-Mu di masa depan umur kami.”
Shirāth Mustaqīm adalah jalan penghambaan… jalannya orang-orang yang telah Allah beri nikmat… jalan para nabi, para Shiddīqīn, jalan Syuhadā’ dan jalannya orang-orang yang shaleh… jalannya orang-orang yang telah berjaya dengan kedekatan kepada Allah SWT. bukan jalannya orang-orang yang Allah murkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Dengan munājat penuh permohonan seperti itu seseorang menghadap kepada Tuhan-Nya… dengan serius ia memohon bantuan dan hidayah-Nya… dan pada waktu yang sama, ketika ia memohon agar diselamatkan dari jalan-jalan kaum terkutuk dan kaum sesat, ia sadar bahwa untuk itu ia harus serius pula dalam berkomitmen untuk menapak-tilasi jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka, dan menjauhi jejak orang-orang yang dimurkai Allah dan tersesat jalan…
Setelah selesai membaca surah Al Fatihah… surah yang sarat dengan makna-makna mendalam… disertai ikrar dan sumpah setia… penuh dengan ukiran penghambaan dan munājat permohonan ia telah menyelesaikan satu bagian penting dalam menegakkan shalat… ia telah berbicara kepada Allah.
💬 Yuk lanjutkan belajar kisah-kisah teladan lainnya bersama kami!Follow & kunjungi sosial media kami:
✨️Instagram : https://www.instagram.com/14teladanofficial?igsh=YWhqY3FlaGxyY2xl
✨️TikTok: https://www.tiktok.com/@14.teladan?_t=ZS-8zsNYmN232W&_r=1
✨️Web : https://14teladan.com/






