Dalam kitab ihya Ulumuddin di ceritakan ada bapak dan anak mau naik haji. Berbeda dulu dengan sekarang. Sekarang naik pesawat berangkat sendiri, kalau dulu rombongan kafilah-kafilah.
Ada yang naik unta, kuda, keledai, ada yang jalan kaki. Karena perjalanan nya jauh, maka mereka menggunakan jasa tenaga keamanan untuk menjaga anggota rombongan hingga aman selama di perjalanan dan ada biaya untuk membayar bagian keamanan itu.
Singkat cerita si bapak ini sakit, akhirnya harus di istirahat kan di salah satu pemukiman warga dan di temani oleh anak nya. Jika membaik bisa menyusul rombongan, jika tidak bisa kembali ke kampung halaman. Adapun rombongan terus berjalan karena tidak mungkin merubah jadwal dan terlambat karena satu atau dua anggota rombongan yang beristirahat.
Dan menurut cerita akhirnya si bapak ini meninggal dunia. Selang berapa waktu setelah itu. Menghitam wajah si bapak itu, hitam dan menyeramkan. Di saat masyarakat mengetahi ada orang berangkat haji singgah dan meninggal di desanya, langsung mereka akan datang untuk ta’ziah dan membantu merawat jenazah itu.
Si anak menutupi wajah bapak nya lantaran malu, karena wajah nya yang hitam dan menyeramkan itu. Karena letih menjaga bapaknya, anak ini tertidur. Di dalam tidurnya dia melihat ada seseorang mendatangi si bapak, mengusap wajahnya terus berjalan meninggalkan jenazah itu dalam keadaan berubah wajah yang hitam menyeramkan menjadi terang berseri seri.
Si anak bertanya siapa engkau? Dan orang itupun menjawab saya Rosulullah SAW. Anak itu bertanya sampai begitunya engkau langsung yang bantu bapak saya. Amal apa yang menyebabkan engkau langsung turun tangan untuk menolong ayahku?
Rosulullah SAW bilang, “Ayahmu ini tanpa kamu ketahui wahai anak, Ayahmu dalam kesendirian nya tidak berhenti terus menyampakan solawat dan salam nya kepadaku. Oleh karenanya hari ini saya berikan sebagian pahalanya dan sebagian nya lagi nanti di akhirat.
Para arif mengatakan bahwa hal yang paling berharga bagi orang yang sudah meninggal dunia di samping doa, yasin, tahlil adalah sholawat atas Nabi Muhammad SAW dan keluarga nya. Maka hadiahkan lah atau tujukan lah pahala solawat kita untuk orang lain baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal. Karena hal itu tidak mengurangi sama sekali pahala kita yang membaca nya.
Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an Surat al ahzab : 56
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah SWT dan malaikatnya Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW wahai orang-orang yang beriman bersholawat lah kalian kepada nya dan sampaikan salam penghormatan kepadanya.”
Menurut tafsir tobari di katakan bahwasanya Sholawat Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW artinya Allah SWT merahmati nya. Dan sholawat malaikat kepada Nabi Muhammad SAW artinya kendoakan nya. Dan sholawat orang yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW artinya mengharap keberkahan darinya.
Masih di dalam tafsir Thobary di jelaskan : di sebutkan bahwasanya menceritakan kepada kami ibnu hamid dia berkata bercerita harun dari ansabah dari usman bin mauhib dari musa bin tolhah dari ayahnya dia berkata bahwa telah datang seorang laki-laki kepada nabi Muhammad SAW dan lelaki itu mengatakan aku mendengar Allah SWT berfirman ;
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka bagaimanakah cara bersholawat kepadamu? Rasulullah SAW menjawab : ucapkanlah :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد وَعَلى آلِ مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيتَ عَلَى إبْرَاهيمَ إنَّكَ حَميدٌ مَجيدٌ، وَبَارك عَلَى مُحَمَّد وَعَلى آلِ مُحَمد، كَمَا بَارَكتَ عَلَى إبْرَاهيمَ إنكَ حَمِيد مَجِيدٌ
Demikian Sholawat yang di ajarkan Rasulullah SAW versi panjang nya, dan mungkin bisa di tarik kesimpulan bahwa Sholawat yang di ajarkan Rasulullah Saw untuk nya adalah menyertakan keluarganya di dalam bacaan Sholawat itu.






