Imam Ghozali mudah merupakan seorang pelajar yang sangatlah rajin, beliau memiliki cara khusus dalam belajar, yakni menulis seluruh yang diucapkan gurunya.
Setelah beliau belajar bertahun-tahun di naisabur, beliau ingin kembali ke thus, beliau pun mengumpulkan seluruh catatannya.
Beliau pun berangkat bersama rombongan yang hendak pergi ke thus juga, namun di tengah padang pasir, rombongan beliau dikejutkan dengan para perampok.
Perampok itu mengambil satu persatu barang-barang berharga setiap orang di rombongan kafilah tersebut, hingga sampailah ke giliran imam Ghazali.
Imam Ghazali memohon dengan sangat kepada perampok, agar tidak mengambil barangnya, perampok pun mengira bahwa di dalam tasnya terdapat barang yang amat berharga.
Namun ketika perampok itu membuka tas imam Ghazali, tidak ditemuinya barang yang berharga, hanya kumpulan kertas-kertas perampok itu bertanya “Apa ini?”
Beliau menjawab “itu bermanfaat bagiku, tapi tidak bagi anda” perampok pun kembali bertanya “kertas-kertas apa ini?”
Dia menjawab “ini merupakan hasil belajar ku selama bertahun-tahun, jika anda mengambilnya maka sia-sia aku belajar” perampok itu tertawa dan tanpa sadar berkata “bukanlah ilmu jika bisa dicuri”
Kata-kata perampok ini menusuk tajam kepikiran imam Ghazali, dan membuatnya tersadar dan merubah cara belajarnya bukan dengan banyak mencatat, tapi lebih banyak memikirkan pelajaran-pelajarannya.
Lalu beliau berkata di akhir hayatnya “paling baiknya nasihat yang aku dengar selama hidupku adalah nasihat dari perampok itu”






