Dari beberapa Minggu yang lalu, sebetulnya saya sudah ingin menulis soal ini, tetapi, belum sempat terus. Siang ini, saya meniatkan diri untuk menulisnya. Sindrom Kejayaan Masa Lalu merupakan istilah yang saya temukan dalam buku psikologi agama. Setelah saya pelajari, pemahaman tentang sindrom ini ternyata cukup penting, terutama bagi kalangan muda. Sindrom Kejayaan Masa Lalu merupakan sebuah gejala psikologis yang sering menjangkiti masyarakat yang sudah berumur/tua. Sindrom ini merupakan sesuatu yang sering menyebabkan terjadinya permasalahan di kehidupan sosial.
Ciri dari masyarakat/orang tua yang terjangkit sindrom ini adalah pertama, Dia memiliki kebanggaan tersendiri atas berbagai tindakannya di masa lalu (baik untuk kepentingan pribadi maupun wilayah yang di tinggali). Kedua, mereka memiliki kecenderungan egois dan tidak mau mengalah atau tersaingi. Dan terakhir, mereka juga tidak menyukai adanya kebaruan yang bisa mengancam reputasi atau eksistensinya di mata masyarakat lain. Sebetulnya masih banyak, tetapi, cirinya saya cukupkan sampai di sini saja.
Jadi, mereka yang terjangkit Sindrom Kejayaan Masa lalu biasanya memiliki kecenderungan untuk membatasi berbagai aktivitas, kegiatan dan Inovasi yang muncul/di adakan oleh seseorang yang lebih muda/para pemuda. Perlu di catat, bahwa Sindrom ini bukan termasuk penyakit fisik, melainkan hanya gejala psikologis. Tetapi, dalam perjalanannya, mereka yang terjangkit juga bisa terkena penyakit fisik, entah itu jantung, stroke, hipertensi dan lain-lain. Sebab, mereka yang terjangkiti biasanya seringkali merasa takut dan tertekan. Sehingga, ketika hal itu tidak bisa di kelola, gejala psikologis ini akhirnya bisa mempengaruhi kesehatan tubuh.
Di sini, saya yakin para pemuda yang aktif di organisasi/lembaga sosial sering menemukan masyarakat/orang tua yang memiliki gejala Sindrom Kejayaan Masa Lalu. Sebab, saya pribadi pun seperti itu. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, sindrom ini memang sering menyebabkan kerumitan terjadi di lingkungan sosial, dari mulai konflik antar generasi, dan sejenisnya.
Masyarakat/orang tua yang terjangkiti biasanya memiliki karakter yang ngotot dan selalu berkeinginan untuk menghambat atau mengganggu berbagai kegiatan dan aktivitas baru (Inovasi) yang di adakan oleh para pemuda. Dalam lubuk hatinya, mereka tidak menginginkan adanya suatu peralihan dari suasana dulu (seperti saat Dia berjaya di situ) menjadi suasana baruu yang membuat mereka tereliminasi/tersingkir dari pandangan/penilaian masyarakat lain.
Hal ini sebetulnya tidak sehat, sebab, hal ini bisa mempengaruhi progres kemajuan dan perkembangan suatu wilayah yang mereka tinggali (termasuk Pemerintahannya juga). Suatu wilayah yang di dalamnya terdapat banyak masyarakat/orang tua yang terjangkit sindrom ini memiliki potensi mengalami berbagai kemandekkan. Oleh karena itu, masyarakat/orang tua yang terjangkit sindrom ini perlu di minimalisir.
Meminimalisir masyarakat/orang tua yang seperti itu agak susah. Makannya, di perlukan kesabaran dan kegigihan. Masing-masing mereka biasanya memiliki sifat yang keras kepala. Tak heran, dalam prosesnya, banyak sekali para pemuda yang tidak tahan dan memilih mundur. Setidaknya, gejala psikologis ini bisa di minimalisir dengan beberapa cara/pendekatan. Pertama, bisa dengan pendekatan secara internal, kedua, bisa dengan pendekatan eksternal. Ini tergantung dari tingkat keparahannya.
Apabila tingkat keparahannya biasa, maka, pendekatan secara internal lebih utama untuk di terapkan, pendekatan ini meliputi komunikasi, persuasi, saling berpendapat, dan seterusnya. Namun, apabila tingkat keparahannya sudah tinggi, seperti misalnya sampai memunculkan sikap arogan, mendiskriminasi, menjatuhkan dan sejenisnya, maka, pendekatan secara eksternal lebih tepat/direkomendasikan. Pendekatan ini meliputi edukasi secara ucapan/tindakan tidak langsung, melawannya dengan cerdas, dan seterusnya.
Sindrom Kejayaan Masa Lalu merupakan gejala psikologis yang muncul di sebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap konsep keagamaan juga, oleh karena itu, dalam konteks yang lebih luas, cara-cara keagamaan, seperti berupaya dengan menyampaikan segelintir nasihat dan sebagainya juga bisa di coba, bahkan, cara-cara keagamaan ini merupakan cara yang sebetulnya lebih pokok dan disinyalir lebih efektif di banding cara-cara yang lain. Tetapi tetap, memadukan semuanya merupakan cara yang lebih afdol.
Sehingga mudah-mudahan, dengan cara-cara yang demikian ini mereka bisa sadar, lalu mulai memperbaiki/membenahi sikapnya terhadap subjek-subjek (khususnya) para pemuda di lingkungan sekitar dan lain-lain. Mulai memberikan dukungan/support kepada mereka, banyak memberi masukan yang positif dan membangun, serta masih banyak lagi. Ketika sudah demikian, yang bisa terjadi pada suatu wilayah adalah sebaliknya, wilayah tersebut bisa (dalam waktu cepat atau lambat) mencapai kemajuan dan perkembangan yang pesat.
Wallahu ‘alam
Ega Adriansyah
Kubangdeleg, 16 Juli 2022, 16.19 WIB






